//Kondisi Pelajar Indonesia di Taiwan

Kondisi Pelajar Indonesia di Taiwan

 

Taiwan merupakan salah satu negara tujuan belajar mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia. Taiwan memiliki system pendidikan yang cukup bagus serta fasilitas penelitian yang lengkap. Selain itu, Pemerintah Taiwan juga memberikan perhatian khusus pada bidang pendidikan dan penelitian. Sehingga banyak mahasiswa Indonesia yang tertarik untuk belajar di Taiwan. Sampai saat ini tercatat sekitar 3000 mahasiswa Indonesia sedang menempuh pendidikan di Taiwan, baik untuk program bachelor, master, PhD maupun untuk belajar Bahasa.

PPI Taiwan sebagai organisasi pelajar Indonesia di Taiwan mendapatkan mandat untuk menampung aspirasi pelajar Indonesia di seluruh universitas di Taiwan. Oleh karena itu, PPI Taiwan telah melaksanakan forum diskusi dalam bentuk kegiatan PPI Roadshow yang diadakan di tiga kota di Taiwan. Sebelumnya kegiatan ini diawali dengan survey kondisi pelajar Indonesia.

Berikut adalah ringkasan hasil diskusi dan survey yang dibagi dalam 5 topik:

Persiapan keberangkatan ke Taiwan

Salah satu kendala dalam persiapan keberangkatan ke Taiwan adalah persiapan dokumen, termasuk legalisir di beberapa institusi. Salah satu persyaratan pendaftaran di beberapa universitas dan juga pendaftaran beasiswa yang diberikan pemerintah Taiwan (Beasiswa MOE, MOST dan ICDF) adalah ijazah dan transkrip nilai yang telah dilegalisir oleh Taipei Economic and Trade Office (TETO) yang beralamat di Jakarta. Sebelum itu, dokumen-dokumen tersebut harus dilegalisir di notaris, Kementerian Hukum dan HAM dan juga Kementerian Luar Negeri.

Untuk pelajar-pelajar yang berdomisili di luar Jakarta, hal ini tentu merupakan kendala besar karena dibutuhkan tenaga, uang dan waktu untuk melakukan proses-proses tersebut. Sebelumnya pelajar-pelajar di luar Jakarta menggunakan jasa agen untuk melakukan legalisir dokumen. Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit (sebagai contoh legalisir dokumen untuk keperluan pembuatan visa sekitar 3 sampai 5 juta).

Namun begitu, Taiwan Education Center (TEC) Indonesia sebagai lembaga resmi Kementerian Pendidikan (MOE) Taiwan di Indonesia menyediakan fasilitas pengurusan dokumen dan aplikasi visa. Sehingga para pelajar yang ingin melegalisir dokumen bisa mengunjungi kantor cabang TEC di beberapa kota besar di Indonesia. Fasilitas ini perlu didukung oleh Pemerintah Indonesia dan disebar-luaskan untuk mempermudah pelajar-pelajar Indonesia yang ingin menempuh pendidikan di Taiwan.

Proses belajar mengajar di kampus-kampus di Taiwan

Salah satu kendala dalam proses belajar mengajar adalah bahasa. Dari hasil survey, sebanyak 40% responden mengaku proses belajar-mengajar dilakukan menggunakan Bahasa Inggris. Sebagian 50% lainnya mengaku para dosennya mengajar menggunakan metode campuran Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin. Dan sebagian 10% pelajar yang disurvey belajar dengan menggunakan Bahasa Mandarin, yang hanya meliputi sebagian besar program Undergraduate and sebagian kecil Master Program.

Untuk beberapa mata kuliah yang diajarkan dalam Bahasa Inggris, masih terdapat kendala dimana pelafalan Bahasa Inggris dosen kurang tepat. Untuk mata kuliah yang diajarkan dalam Bahasa Inggris dan Mandarin, biasanya penjelasan dalam Bahasa Mandarin lebih detail dibandingkan penjelasan dalam Bahasa Inggris, sehingga dalam beberapa kasus, mahasiswa local memiliki pemahaman yang lebih dibandingkan mahasiswa internasional.

Selain kendala Bahasa dalam proses perkuliahan, terdapat kendala lainnya seperti:

  • Sebagian besar dokumen-dokumen terkait proses administrasi hanya tersedia dalam Bahasa Mandarin, sehingga mahasiswa mengalami kesulitan dalam memahami prosesnya.
  • Beberapa kampus menawarkan research advisor yang tidak sesuai dengan bidang penelitian yang ingin dilakukan mahasiswa.
  • Silabus dan penyampaian yang tidak sesuai. Di beberapa universitas terdapat matakuliah dimana course outline dan material pengajaran di kelas tidak sesuai.
  • Mahasiswa baru memerlukan pendampingan, misalnya dalam pengambilan kelas dan pemilihan advisor.
  • Target publikasi SCI (prosesnya sangan ketat dan memerlukan waktu yang lama) dibebankan kepada mahasiswa, padahal mahasiswa sendiri memiliki target lulus tepat waktu (karena terkait perjanjian beasiswa).
  • Sebaiknya disediakan ruangan untuk beribadah bagi mahasiswa muslim di kampus.

Beasiswa dan biaya hidup di Taiwan

Biaya hidup di Taiwan bervarisi berdasarkan lokasi kampus dan tempat tinggal. Di kota besar seperti Taipei atau Taichung, biaya hidupnya relatif lebih tinggi. Sedangkan di kota kecil seperti Zhongli dan Tainan biaya hidup relatif lebih murah.

Sebagian besar pelajar Indonesia (sebanyak 81%) mendapatkan beasiswa untuk membayar biaya kuliah dan biaya hidup sehari-hari, yaitu dari Pemerintah Taiwan, kampus, DIKTI, Pemerintah Daerah di Indonesia, maupun dari Professor. Sedangkan sisanya menggunakan uang pribadi atau orang tua.

Namun begitu, sebanyak 32% responden yang menerima beasiswa (yaitu beasiswa double degree UB dan beasiswa kampus) mengaku beasiswa yang diterima tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karenanya, mereka harus berjuang dengan bekerja paruh waktu untuk memenuhi biaya hidup di Taiwan. Selain itu, sebanyak 24% responden yang menerima beasiswa (yaitu beasiswa beasiswa double degree UB dan beasiswa kampus) juga mengaku bahwa pencairan beasiswa tidak lancar, sehingga mereka harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan finansialnya.

Dalam PPI Roadshow terakhir di NCKU Tainan, para peserta juga mendiskusikan hal yang sama. Secara umum, pelajar Indonesia di NCKU mendapatkan beasiswa dari kampus. Namun beasiswa tersebut tidak cukup untuk memenuhi biaya asuransi, tempat tinggal dan biaya hidup sehingga beberapa pelajar harus bekerja paruh waktu (part time) untuk menutupi kekurangan tersebut. Beberapa pelajar yang terlibat dalam kegiatan lab mendapatkan tambahan dari professor sehingga tidak perlu bekerja di luar kampus. Namun, pelajar-pelajar yang kerja paruh waktu pun juga mengalami kendala bahasa sehingga peluang untuk kerja paruh waktu menjadi sangat terbatas.

Permasalahan beasiswa di NCKU tidak hanya dialami oleh pelajar-pelajar Indonesia, tapi juga pelajar internasional lainnya. Oleh karena itu, para pelajar internasional di NCKU membentuk OISA sebagai perwakilan resmi untuk melakukan negosiasi dengan pihak kampus terkait masalah beasiswa. Hasilnya sudah mulai terlihat dimana pihak kampus mulai menaikkan nominal beasiswa.

Terdapat juga kasus dimana beasiswa yang diberikan tidak sesuai perjanjian dan diubah secara sepihak oleh kampus, yaitu di University of Shoufu. University of Shoufu hanya menyediakan beasiswa dalam bentuk tuition exemption dengan syarat mahasiswa harus mendapatkan nilai yang tinggi. Namun, karena jumlah beasiswa yang terbatas, beberapa mahasiswa yang sudah mendapatkan nilai tinggi pun masih belum mendapatkan beasiswa. Di sisi lain, mereka masih harus kerja part time untuk memenuhi kebutuhan hidup karena tidak mendapatkan stipend.Aspirasi

Permasalahan yang sama mungkin juga terjadi di kampus-kampus lain di Taiwan. Hal ini mungkin disebabkan pihak kampus yang terus meningkatkan jumlah mahasiswa internasional namun dana beasiswa yang disiapkan tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Sehingga nominal beasiswa yang diterima mahasiswa menjadi berkurang. Di sisi lain, perekonomian Taiwan pada beberapa tahun terakhir kurang begitu bagus sehingga mungkin juga berpengaruh pada anggaran dana pendidikan.

Permasalahan seperti ini seharusnya bisa diselesaikan secara diplomatis melalui perwakilan pemerintah Indonesia (dalam hal ini Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi) di Taiwan. Namun begitu, perwakilan Pemerintah Indonesia di Taiwan berbentuk Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) dimana tidak terdapat bagian yang mengurusi pendidikan atau pelajar Indonesia secara langsung. Kegiatan kemahasiswaan biasanya dibantu oleh Bapak Agung yang mengurusi bidang pariwisata di KDEI. Oleh karena itu para pelajar Indonesia di Taiwan mengusulkan untuk dibentuknya atase pendidikan di Taiwan yang ditunjuk langsung oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk membantu permasalahan pelajar Indonesia di Taiwan. Pada diskusi sebelumnya di KDEI, Bapak Arief Fadillah juga menyampaikan hal yang sama.

Kehidupan sehari-hari pelajar Indonesia di Taiwan

Sebagian besar pelajar Indonesia di Taiwan tinggal di dormitory kampus (yaitu 83% responden). Sisanya tinggal di kost di luar kampus (13%) dan rumah pribadi atau keluarga (4%). Dalam proses pencarian tempat tinggal, ada sebagian kecil responden (sebanyak 10%) yang mengku mengalami kesulitan dalam mencari tempat tinggal, seperti kapasitas kamar dormitory yang terbatas.

Selain itu, sebagian kecil responden (sebanyak 21%) juga mengaku mengalami kesulitan dalam beribadah karena tidak terdapat tempat ibadah di sekitar kampus. Makanan halal juga menjadi kendala bagi Pelajar Muslim karena sebanyak 50% responden mengaku mengalami kesulitan untuk mendapatkan makanan halal di sekitar tempat belajar.

Beberapa kendala lainnya:

  1. Beberapa kampus tidak mengizinkan mahasiswa untuk memasak di dormitory. Padahal untuk mencari restoran halal di Taiwan sangat sulit.
  2. Di beberapa kampus jumlah dormitory sangat terbatas sehingga, ada sebagian mahasiswa yang harus tinggal di luar kampus dengan biaya yang lebih mahal. Bahkan di NTUT, kampus dan dorm terpisah jauh sehingga untuk pergi ke kampus, mahasiswa membutuhkan waktu yang lebih lama dan biaya transportasi.
  3. Mahasiswa baru mengalami kesulitan dalam membeli makanan karena mayoritas penjual tidak Bahasa inggris.

Orang yang memakai jilbab dianggap aneh, mungkin karena itu baru kali pertama ada mahasiswa yang memakai jilbab di kampus tersebut.